Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah dengan
selamat. Perjalanan panjang seharian, dan sekarang saatnya berbagi
cerita padamu laptopku sayang. Hari ini cukup menyenangkan…loe tau
kenapa laptop? Hari pertama masuk kampus semester 2, Dosennya cantik
sekali… Bening, smile good, tapi kok udah hamil ya…??? Hehehe… tapi
bukan itu yang mau gue certain sama loe laptop.
Loe pasti masih inget dong rutinitas gue sehari – hari.
Kalau lupa, coba loe inget – inget lagi… masih lupa
juga? Huuu… Payah! Katanya Best friend, always ada saat gue mau
bercerita. Tapi wajar juga sich kalau loe mulai pelupa secara loe udah
mulai tua. Hampir 5 tahun ya loe sama gue. Salut sama kesetiaan loe,
walau kadang – kadang Virus suka iseng gangguin loe. Sekarang kalau
masih lupa juga, loe lihat My Document aja sebab gue ada nyimpen disana.
Tapi kalau loe lagi malas, dan kebetulan gue lagi nafsu banget
bercerita ne. Gue ingetin aja ya kalau dari senin sampai jum’at gue
mesti nyari duit alias kerja tapi Sabtu minggu gue nyari ilmu alias
kuliah. Kerja di Perawang, kota kecil berdebu di pelosok Riau. Butuh
waktu 1 jam 10 menit buat gue pergi ke Pekanbaru, kampus tempat gue
kuliah. Dengan jarak perawang – Pekanbaru 60 km/jam (Pulang pergi = 120
km/jam) benar - benar perjalanan weekend yang melelahkan.
Tapi tidak dengan hari ini, laptop. Kalau biasanya
pulang kampus gue selalu kesal dengan kondisi jalan raya yang berlobang,
Alhamdulillah sekarang gue sudah bisa sabar menghadapi perbaikan yang
tak kunjung dilakukan. Sekarang hanya bisa pasrah dengan keadaan karena
tidak tau lagi kemana dan bagaimana aspirasi harus di sampaikan. Sudah
terlalu banyak keluhan dari masyarakat tapi penguasa tetap bungkam.
Bahkan di RTV (RiauTelevisi) gue pernah baca salah satu sms dari
penonton, isinya begini :”Jalan Raya Pekan baru – Perawang terutama dari
Minas – Perawang sungguh unik. Dengan jalan yang berkelok – kelok
dihiasi lobang – lobang besar dan kecil, di tengah – tengah dan pinggir,
sepertinya bisa di jadikan tujuan wisata. Sebab Turis – turis asing
pasti tidak pernah menemukan kondisi jalan seperti itu di kampung
halamannya”. Huahahaha…. Kekecewaan yang beralasan, laptopku. Malah
saking dalam dan lebarnya, sedikit gambaran biar loe tau ya laptop,
tinggal di isi air aja itu lobang, bisa dech kita ternak Ikan Lele di
tengah jalan. Lobangnya bukan 1, 2, atau 3, tapi buanyaaaaaaak,
dalaaaaaam… dan sepanjang jalan. Parahnya, ada di tempat – tempat
tertentu yang masyarakatnya, entah benar – benar peduli atau ada sesuatu
di balik itu semua, menimbun lobang – lobang tersebut dengan tanah
merah dan beberapa anak kecil berdiri sambil menyodorkan ember kecil
kepada pengendara motor/mobil untuk meminta rupiah. Dan kalau hujan
turun, tanah – tanah merah timbunan lobang – lobang tadi langsung jadi
bubur merah. Merembes kemana – mana menutupi ruas jalan raya. Hiks…
hiks… hiks… kalau nggak hati – hati bisa terpeleset. Makin bertambah
dech penderitaan. Nggak tau gue musti jelasin kayak gimana. Biar loe
nggak penasaran, suatu nanti loe gue ajak ke kampus aja dech laptop.
Biar loe rasain… Belok sana belok sini, menghindari lobang sana masuk
lobang sini. Belum lagi ada truk, bus, huuuuu… takut. Sudah nggak ke
hitung dech berapa korban jiwa.
Kasihan motor gue, laptop. Dia cuma korban dari
ambisi gue untuk menuntut ilmu walau menempuh perjalanan yang cukup
melelahkan. Kalau para penguasa melewati jalan ini memang tidak ada
masalah, Laptop. Mereka pakai Land Crouser, lobang sedalam apapun tidak
akan mereka rasakan. Apa lagi mereka cuma duduk di belakang sambil baca
Koran, tinggal sopirnya yang mengendarai harus hati – hati dan pelan –
pelan kalau tidak mau di marahi. Sungguh ironis, Laptop. Dengan keadaan
Riau, dengan kekayaan Riau yang seantaro Indonesia juga tau. Di bawah
minyak, diatas minyak. Tapi kondisi jalan rayanya kok seperti ini.
Satu pinta gue, Laptop… Seandainya loe lebih
beruntung dari gue bisa ketemu Para Penguasa di negeri ini. Tolong
sampaikan pesan gue ya… gue nggak minta di kasihani sebab gue bayar
pajak penghasilan tiap bulan, gue nggak minta kuliah gratis, gue nggak
minta di bangunin rumah sama Pemerintah. Gue cuma minta jalan – jalan
yang berlobang itu di perbaiki. Buat perencanaan yang mateng untuk
melakukan perbaikan. Mulai dari pengawas lapangan yang benar – benar
professional, sampai CV yang akan mengerjakan proyek perbaikan ini. Dan
satu lagi, niatkan proyek perbaikan ini untuk kepentingan rakyat dan
pembangunan bangsa. Jangan sampai proyek perbaikan ini menjadi lahan
korupsi bagi pihak – pihak yang terlibat dalam proyek ini. Satu lagi,
laptop. Kalau memang pesan gue di dengar dan proyek perbaikan dilakukan,
tolong ya jalannya sekalian di perlebar. (Huahaha… Ngelunjak! Di kasih
hati minta jantung).
Gue baru semester 2 laptop, perjalanan gue buat
wisuda masih lama. Jangan sampai gue jadi korban berikutnya di jalan
raya, bukan karena kecerobohan pengendara tapi karena ketidak-pedulian
Penguasa. Lagian kalau jalannya bagus, keuntungannya juga nggak 100%
buat gue. Perekonomian daerah juga bisa maju, tingkat kecelakaan di
jalan raya bisa berkurang. Kalau sekarang gue ke kampus butuh waktu 1
jam 10 menit, mukin kalau jalannya sudah bagus, gue cuma butuh waktu 1
jam ke kampus. Lumayan, hemat bensin. Tapi mungkin “wisata jalan
berlobang” nggak bisa berkembang. Hehehe…
Mungkin sekarang gue masih bisa bersabar, Laptop.
Berkat nasehat seorang kawan, untuk berusaha menikmati perjalanan
gimanapun kondisi jalan. Masih kata kawan juga, jalan yang berlobang
bisa buat terapi atau pengobatan alternative sakit pinggang bagi
pengguna jalan. Jiaaah… Bener nggak sech…? Besok kalau ada waktu, loe
cari di Google ya laptop hubungan jalan berlobang sama sakit pinggang.
Kasih tau gue… jangan loe diemin aja. Kalau bener jalan berlobang bisa
jadi terapi sakit pinggang bagi pengguna jalan, gue bakal ajukan
proposal sama Pemerintah untuk melobangi semua jalan raya. Atau khusus
jalan raya Perawang – Pekan baru di jadikan klinik pengobatan
alternative bagi penderita sakit pinggang aja. Hahaha…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar