Senin, 24 Februari 2014

Kasta-kasta

Perusahaan ini bukan kerajaan, pekerjanya bukan abdi yang mengabdi dengan tulus untuk memperkaya pemiliknya. Perusahaan init adalah perusahaan pencari untung, dengan mempekerjakan orang-orang yang butuh penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Walaupun kadang ada saja atasan yang memperlakukan bawahannya (sesama pekerja) dengan kondisi lebih buruk, baik secara mental ataupun secara fisik, hanya berbasis kekuasaan lebih yang diberikan kepadanya.

Para pekerja tentu saja mempunyai tingkatan yang berbeda. Level, istilah kerennya. Dasar paramida diisi oleh level satu, para kuli yang baru masuk dan baru saja menghabiskan masa percobaan dengan gilang gemilang, menatap masa depan di Indah Kiat dengan senyum lebar, siap menaklukkan hari. Mereka bergelimang dengan segala macam kerja kasar, berlumur debu dan kotoran, pelaksana semua pekerjaan.Jika bekerja dengan baik dan mendapat perhatian dari atasannya, tingkat 1 ini berubah menjadi tingkat dua, dan dari tingkat dua naik ke tingkat 3 dan mentok di sini. Jika tidak, boleh bersabar menunggu beberapa tahun untuk kenaikan jabatan secara otomatis, sampai ke level tiga.

Level 1 sampai level 3 inilah golongan pelaksana kerja, operator. Mereka mengoperasikan mesin-mesin produksi, melaksanakan semua instruksi, WI dan SOP tanpa banyak kata dan tidak pernah memertanyakan kenapa. 

Level 4 dan 5 merupakan golongan kepala regu, yang secara arti sudah punya bawahan untuk disuruh-suruh dan diatur. Sarjana yang baru masuk dulu berada di level 5, sekarang harus cukup puas dengan level 4 saja.

Level 6 dan level 7 membawahi kepala regu dan para bawahan dari kepala regu. Mereka ini golongan kepala shift dan asisten. 

Level 8 dan 9 membawahi para level 7 dan level dibawahnya. Mereka adalah para manajer, yang mengepalai sebuah seksi, yang terdiri dari satu atau lebih unit produksi. Bawahannya bisa puluhan hingga ratusan untuk satu seksi yang besar, dulu sebelum dimekarkan untuk memberi posisi bagi pendatang asing yang butuh jabatan. Para kepala seksi inilah ujung tombak dari proses manajerial aneh di Indah Kiat ini, harus siap mengelola para kaula dengan segala tingkah dan pemberontakannya dan siap menampung segala tekanan dari atasan yang kadang terkesan tidak berperi kemanusiaan. Level inilah yang sangat berpotensi untuk mendapatkan stroke dengan cepat, jika tidak pandai berkelit dari segala ancaman dan tekanan. Nyaris semua kebijakan dipastikan akan menghantam pendapatan kepala seksi dengan segala macam denda dan penalty yang tidak kenal ampun. Harus betul-betul bermental stainless steel jika berada di level ini. Harus siap melawan pembetontakan dari bawahan, dan harus siap melawan instruksi goblok dari para atasan.

Di atas kepala seksi ada kepala departemen. Mereka berada di level 10 dan 11, membawahi satu atau lebih seksi. 

Level 12 dan 13 adalah para direktur, kepala divisi. Mereka membawahi satu atau lebih departmen.Mereka melapor ke presiden direktur, jabatan tertinggi di perusahaan ini. Tetapi, sebelumnya ada ada jabatan sisipan, untuk menambah birokrasi: ada Acting Vice Presiden, yang bisa lebih dari satu orang. 

Dulu, melalui cerita yang dituturkan seorang senior, kasta jabatan bisa dibedakan dari warna tanda pengenal yang dipakai. Kasta terendah - sekarang tidak ada lagi - adalah yang memakai tanda pengenal berwarna coklat, yaitu para buruh harian lepas. Sesuai dengan jebatannya, mereka hanya dibayar dengan hitungan hari. Jika libur dan tidak masuk kerja, katakanlah pada akhir minggu, mereka tidak akan dibayar. 

Kasta karyawan, level 1 sampai dengan 7, mengenakan tanda pengenal berwarna hijau. Golongan ini paling banyak jumlahnya di  perusahaan ini.

Kasta kepala seksi, yang sudah masuk kasta staff, mengenakan tanda pengenal berwarna biru. "Peneng biru lewat", sering terdengan untuk mengingatkan para kawula yang sedang asyik bercengkerama dalam jam kerja saat level kepala seksi lewat.

Kasta peneng merah, yang memakai tanda pengenal berwarna merah, adalah golongan level 10 dan seterusnya. 

Kasta staff, level 8 dan ke atas, sangat disegani - kalau bukan ditakuti - oleh para bawahannya. Sabda mereka seperti titah para dewa, semua ucapan akan diterjemahkan sebagai perintah untuk bawahannya. Mehadiran mereka mengintimidasi, menimbulkan aura ketakutan seakan wabah sedang melintas.Semua canda dan percakapan akan terhenti, dan akan berlanjut kalah kasta staff sudah memulai lagi.

Selain kasta berdasarkan jabatan yang diatur dalam undang-undang Indah Kiat, ada juga kasta khusus yang terjadi berdasarkan tradisi, dan tidak ada aturan yang mengaturnya.Semua terjadi karena ada yang memulainya dulu, dan sekarang yang menikmatinya berusaha untuk mempertahankan kelanggengannya.

Asal usul dan ras juga mempengaruhi urutan kasta, selain level dan jabatan. Kasta tertinggi ada pada golongan manusia setengah dewa, para manusia agung yang berasal dari Taiwan. Dulu, tidak perduli level berapapun dia, manusia sipit asal Taiwan ini punya kekuasaan nyaris penuh atas manusia lokal. Tidak jarang terjadi pertengkaran, karena si sipit level 7 Taiwan menyuruh-nyuruh si level 10 lokal hal-hal yang tidak masuk akal dan logika.

Di bawah kasta Taiwan, ada kasta cina Malaysia. Nyaris sama seperti atasannya kasta Taiwan, kasta cina Malaysia ini juga sangat berkuasa atas pekerja lokal.

Di bawah kasta cina Malaysia, ada kasta asing, yang berisi manusia-manusia asal India, Malaysia non cina dan orang asing lainnya. Kasta ini juga mencakup cina lokal produk Indonesia.

Kasta non aturan ini berlaku begitu lama, sampai akhirnya reformasi menerpa.

Sehabis reformasi, kasta operator tidak lagi menganggap atasannya sebagai manusia setengah dewa. Omongan yang tidak masuk akal akan dibantah dan dipertahankan habis-habisan. Semua orang bebas bicara dan mencela, baik di belakang ataupun berdepan-depan. Orang-orang asing - terutama Taiwan - yang dulu ditakuti karena dia berkuasa kerena kesipitannya - sekarang menjadi mainan dan hiburan, terutama bagi Taiwan yang menang Taiwan saja dan tidak punya otak dan skill apa-apa.

Yang tetap disegani adalah mereka yang punya keahlian, dan memlakukan orang lain secara setara, tanpa memandang asal dan level. Orang-orang seperti ini banyak terdapat di sini, baik yang lokal ataupun orang asing. Ini tidak berubah, dari dulu hingga sekarang.

Minggu, 23 Februari 2014

Antisipasi

Pesan WhatsApp dari top management menghimbau "Supaya semua staff melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dari optimasi man power" Optimasi di sini adalah pengurangan man power.

Kedengarannya seperti seorang yang sudah putus asa dan frustasi.

Sabtu, 22 Februari 2014

Pekerja pabrik di bawah tekanan


Ancaman-ancaman bertubi memojokkan pekerja menuju pojok tak tertahankan lagi, akhirnya melakukan kesalahan dan diterminasi, atau mengundurkan diri dan tak dapat apa-apa ...

Jumat, 21 Februari 2014

Senior Project Expert

Karyawan mau dikurangi 20% dengan berkedok manpower optimization, tetapi manusia baru terus berdatangan, kebanyakan expat yang seharusnya juga expert. Tetapi tidak semuanya seperti yang diharapkan. Mereka datang, tanya-tanya ke operator lapangan, belajar pengoperasian. Ini alih ilmu yang salah arah.

Ditempatku bekerja, suatu hari aku berjumpa dengan dua orang, dua-duanya sudah sangat berumur. Seorang membawa ransel, seorang lagi memakai tas selempang. Keduanya membawa kamera mungil, yang terselip dalam sarungnya yang tergantung di ikat pinggang mereka. Helm mereka adalah helm putih  bertuliskan PJT - Project Team. Menilik tampang mereka, mereka berdua adalah orang asing, Cina mungkin, atau Taiwan. Setidaknya usia mereka sudah mencapai nilai titik didih air, atau mereka dilahirkan pas pada saat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapanya yang terkenal itu.

Kupikir mereka kesasar, atau tidak tahu tujuannya kemana, jadi kudekati. Seorang yang berkacamata menunjuk-nunjuk ke arah peralatan baru yang baru bebeapa waktu lalu dioperasikan. Dari mulutnya yang terbuka-tertutup keluar semacam dengungan, jadi kucoba ia sedang mencoba untuk berkomunikasi denganku. Karena kupikir pendengaranku bermasalah dan kata-katanya tertangkap sebagai dengungan di telingaku, aku lebih mendekat dan mencoba bertanya. Dari mulut orang yang berkaca mata masih keluar dengungan yang sama, hanya kali ini lebih tegas. Bukan bahasa cang-cing-cung ataupun bahasa Indonesia. Tinggal satu lagi kemungkinan bahasa, yaitu bahasa Inggris. Karena dulu setiap kelas bahasa Inggris sewaktu di SMA aku nyaris selalu bolos, jelas bahasa Inggris bukan alternatif yang baik bagiku untuk berkomunikasi. Jadi aku menggerak-gerakkan tanganku untuk mencoba berkomunikasi dengan bahasa universal yang sudah ada sejak jaman kuno: bahasa isyarat. Entah mereka mengerti atau tidak, yang tidak berkaca mata mengeluarkan sebuah buku dan mulai menulis sesuatu. Menggambar lebih tepatnya. Kemudian dia menyodorkannya ke mukaku.

Di situ kulihat gambar beberapa baut, diikuti dengan tanda tanya besar, dan kata-kata "how much".

Dia juga kemudian menyodorkan lembaran-lembaran kertas, berisi tabel, angka-angka dan sebuah kolom kosong. Semacam daftar periksa, kemunngkinan untuk mengecek ulang peralatan yang baru dipasang di tempatku kerja, untuk memastikan apa yang dipasang sesuai dengan daftarnya atau tidak. Mereka adalah semacam auditor.

Aku bingung, mencoba memahami situasi keberadaan mereka. Pekerjaan yang mereka lakukan sangat sederhana, dan bisa dilakukan oleh setiap orang lokal yang bisa baca tulis dan mengenal material konstruksi. Sementara, menengok tampang mereka yang sangat serius, pasti mereka adalah orang yang sangat berpengalaman - expert. Mereka adalah orang asing, jadi mereka adalah expat yang expert. Menilik jumlah pulpen di saku mereka yang lebih dari satu biji, mereka bukan expert yang sembarangan. Bayaran mereka sebagai expart yang expert pasti setinggi langit dibandingkan dengan yang didapat orang lokal.

Kenapa perusahaan ini sampai harus mengimport pekerja asing untuk pekerjaan sederhana seperti itu? Apakah itu tidak terlalu berlebihan? 

Luar biasa.

Kamis, 20 Februari 2014

Hari Tidur Nasional

Hari off bagi pekerja yang masih tinggal di mess yang disediakan perusahaan merupakan hari spesial, yang dihabiskan dengan tidur sejadi-jadinya, setelah lima hari bekerja seadanya di pabrik. Kamar-kamar mess dipenuhi oleh para pendengkur pada berbagai level. Sarapan sudah jelas akan terlewati, makan siang dilakukan dengan mata masih setengah terpejam di warung terdekat. Sehabis itu, pekerjaan utama - tidur - dilanjutkan lagi, kadang sampai malam.

Seorang kawan mneyebut hari off sebagai hari tidur nasional.

Rabu, 19 Februari 2014

20 persen

Akhirnya, melalui seorang kawan, bisa juga kudapatkan selembar kertas yang berisi rencana pengurangan karyawan 20% (manajemen menyebutnya optimasi manpower). Kertas tersebut didapatkannya dari tempat sampah yang mau dibuang ke bak sampah.


Tidak perlu menjadi ahli untuk menafsirkan angka-angka dalam tabel tersebut.

Tahun 2013 ada 4606 karyawan, akhir tahun diharapkan karyawan bisa diturunkan menjadi 3517 orang. Ini berarti pengurangan 1089 orang. Bisa dimutasi atau di PHK. Bukan jumlah yang sedikit.

Dari 1089 karyawan tersebut kira-kira ada 80% yang berkeluarga. Ini artinya 871 orang. Katakanlah masing-masing punya satu istri dan dua anak, maka total orang yang kehilangan penghasilan (termasuk yang dinafkahi) adalah sekitar 3702 orang. 

Dasarnya karena apa? Tentu saja bukan karena Indah Kiat bangkrut. Kau tengok saja di dalam, proyek penambahan plant di mana-mana.

Ini murni karena pengelola dan lpemilik ingin keuntungan lebih besar. Kita tengok saja:

Upah karyawan pada tahun 2013 adalah 15.8 USD/ADT, diharapkan turun menjadi 13.67 USD/ADT pada tahun akhir tahun 2014. Ini berarti pengurangan sebesar 2.13 USD/ADT.

Pada tahun 2013, produksi pulp per orang adalah 45.64 ADT/person/month. Dengan karyawan sebanyak 4606 orang, berarti produksi pulp adalah 210,217 ADT/month, atau 7007 ADT/D. Pada akhir tahun 2014, produksi pulp per orang diharapkan menjadi 69.38 ADT/person/month. Ini berarti produksi pulp menjadi 244,009 ADT/month atau 8,133 ADT/D.

Nilai uang masuk (sales amount) pada tahun 2013 adalah 24946 USD/person/month. Dengan nilai tukar dollar Rp. 10000/USD, maka nilai uang masuk tahun 2013 adalah sebesar 249,460,000 RP/person/month. Akhir tahun 2014, karena jumlah karyawan dikurangi dan jumlah produksi dipaksa naik, maka nilai penjualan menjadi 346, 890,000 Rp/person/month. Luar biasa.

Bagaimana dengan gaji?

Tahun 2013, rasio gaji terhadap penjualan adalah 2.9%. Ini berarti 2.9% x 346, 890,000 = 7,234,240 Rp/person/month. Ini adalah rata-rata gaji level terbawah sampai level tertinggi.  Akhir tahun 2014, rasio gaji terhadap penjualan diharapkan naik menjadi 2.73%. Ini berarti 2.73% x 346, 890,000 = 9,470,097 Rp/person/month. Artinya gaji pada akhir tahun 2014 rata-rata akan naik sebesar sekitar 30%. Tetapi benarkah kenaikan gaji ini bisa diharapkan? Kecil sekali kemungkinannya. Mengharapkan kemakmuran dari Indah Kiat adalah pengharapan yang agak riskan. Indah Kiat hanya membayarmu secukupnya saja sehingga kau dan keluargamu bisa makan sehingga kau punya kekuatan untuk tetap bekerja. Itu saja.

Senin, 17 Februari 2014

(Degradasi) kebanggaan menjadi pekerja di perusahaan ini

Bagaimana rasanya memulai karir sebagai kuli dan pensiun sebagai buruh? Aku iseng bertanya kepada seorang senior yang sudah menghabiskan belasan tahun usianya di perusahaan ini.

Dengan logat kental khas daerah utara dia menjawab,"Ah, tak tahulah lagi aku. Aku punya keluarga untuk kuhidupi, dan egoku harus kukesampingkan dulu". Lebih lanjut dia bercerita bahwa seorang temannya pernah mengatakan tentang masalah degradasi kebanggaan bekerja di perusahaan ini.

"Saat diterima dan mulai bekerja, saya sangat bangga. Pada siapapun yang bertanya tentang di mana saya bekerja, jawaban pertama yang saya berikan adalah nama perusahaan. tentu saja sedikit makhluk hidup yang mengetahui nama itu apa dan di mana, jadi mereka bertanya lagi. Saya jawab bahwa perusahaan itu adalah pabrik  dengan produksi terbesar di dunia, konon kabarnya. Di mana lokasinga? mereka bertanya lagi. Saya sebutkan nama kota tempat perusahaan ini berada. Juga, karena begitu terpencilnya tempat ini, walaupun itu adalah kota industri yang bau busuk polusi diterjemahkan menjadi bau uang, tidak banyak manusia yang pernah mendengarnya dan tahu lokasinya. Jadi para penanya mendesak lagi menuntut jawaban. Oh, itu ada di Siak, Siak itu ada di Riau. Oh, Riau rupanya.

"Saat ini, jika ada yang bertanya di mana saya bekerja, jawaban pertama saya tergantung pada darimana asal si penanya. Kalau dia berasal dari luar Sumatera, maka jawaban pertama adalah di Sumetera. Kalau yang bertanya orang yang berasal dari Sumatera, maka jawabannya adalah di Riau, yang nantinya akan menjadi jawaban kedua kalau orang dari luar Sumatera bertanya lagi. Karena Riau begitu luasnya, penanya akan mendesak untuk jawaban yang lebih terperinci. Oh, saya bekerja di Siak. Siak juga sangat luas, jadi di mana pastinya? Oh, di kota ini. Sebagai apa? Sebagai buruh pabrik. Pabrik apa? Pabrik produksi sesuatu yang terbesar di didunia. Apa namanya? Saya sebutkan nama perusahaan. Oh, perusahaan itu rupanya.

"Itulah rasanya. Awalnya saya begitu bangganya sehingga nama Indah Kiat muncul pertama saat orang bertanya. Setelah bertahun-tahun, kebanggaan itu memudar dengan segala kenyataam yang ada. Karena kebanggaan sudah berubah menjadi rasa minder, sekarang kalau ada yang bertanya, jawaban saya terbalik dari saat mulai kerja dulu. Kalau dulu jawabannya nama perusahaan - Pabrik dengan produksi ini dan ini - kota kami - Siak - Riau, sekarang menjadi Sumatera (Riau) - Siak - kota kami - buruh - pabrik ini dan ini - nama perusahaan.

Senior saya melanjutkan, "Jadi kawanku itu sudah sampai pada tahap minder. Bekerja di perusahaan ini. kayak aib saja baginya untuk berterus terang mengatakan bekerja di sini". 

Kenapa tidak berhenti saja dan mencari kerja lain yang lebih membanggakan? "Ah samalah seperti aku. Kau belum tahulah itu. Nanti kalau lama kau di sini, akan kau rasakan sendiri".

Sulit untuk membayangkan bagaimana sebuah kebanggaan terdegradasi menjadi aib. Dulunya bekerja di sini adakah keinginan, sekarang berubah menjadi kewajiban. Kalau dulu kerja memberikan kesenangan dan kepuasan, sekarang menjadi beban yang semakin berat di pundak.

Minggu, 16 Februari 2014

SDM Indah Kiat

Dalam hal SDM Indah Kiat memang luar biasa. Dari ribuan pekerjanya, nyaris semuanya memiliki tingkat keahlian dan kemahiran yang sama. Coba saja kau tengok setiap kali terjadi permasalahan di tempat kerja, baik besar atau kecil, solusinya mirip dan erbukti cukup efektif. Ini bukan masalah seberapa tinggi tingkat pendidikan pekerjanya. Tidak ada hubungannya sama sekali. Tetapi tempaan keras pengalaman, belajar dari berbagai keadaan untuk mencari solusi yang ideal.

Ilustrasi berikut memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hal tersebut.

Seorang kawan bercerita, bebeapa waktu yang lalu sebuah truk pengangkut kayu, yang entah bagaimana caranya menghantam tiang kabel listrik di daerah logyard. Tiang tersebut tumbang, menyeret kabel di atasnya, menyebabkan trip di sekitar lokasi tersebut. 

Seperti biasa, setelah permasalahan diatasi, pengusutan dilakukan oleh manajemen. Yang pertama kali ditanyai, ya jelas, supir truk pengangkut kayu penyebab semua hal yang menyebabkan permasalahan terjadi.

Supir truk dan perusahaannya (kontraktor) dengan tegas menyangkal semua tuduhan. Bukan salah dia akan semua keriuhan ini. Dia hanya menyupir truk, titik. Kenapa tiang listrik musti ada di sana saat dia hendak lewat? Karena tidak bisa dihindarinya, dengan terpaksa tiang itu tertabrak.

Penyelidikan diteruskan dengan mencari keterangan kepada seksi pemilik lokasi, dalam hal ini penanggung jawab area tersebut. Dengan gesit dia berkelit, bahwa itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyuplai listrik, yaitu Power. Tentu saja Power juga mengelak, karena mereka hanya menyediakan arus listrik saja, tentang bagaimana caranya listrik bisa sampai ke pemakai, itu sama sekali bukan urusan mereka. Dalam hal ini, kata mereka, itu merupakan tanggung jawab seksi elektrik.

Penananggung jawab wilayah tersebut  untuk masalah elektrik dimintai kererangannya. Katanya, dulu daerah tersebut adalah semak belukar, jadi sah-sah saja tiangnya ditanam di situ, dulu. Kenapa sekarang belukarnya hilang, sehingga truk bisa lewat di situ dan akhirnya menabrak tiang listrik, dia tidak bisa menjelaskan karena bukan urusannya sama sekali. Kesimpulannya, keberadaan tiang di situ bukan tanggung jawab elektrik. Dengan kata lain, itu adalah tanggung jawab semak belukar yang dulu ada dan sekarang hilang.

Manajemen jelas perlu seseorang untuk disalahkan, dan jelas bukan semak belukar. Apalagi sekarang semak belukarnya sudah hilang sehingga tidak bisa ditanyai lagi. Jadi tuduhan kembali berbalik ke penanggung jawab dari seksi elektrik dan dikenakan penalti berupa SP.

Protes keras penangung jawab elektrik tersebut tidak didengarkan oleh siapapun, apalagi oleh manajemen yang memang dari awalnya dipilih dari yang memiliki pendengaran terbatas. Jadi penalti dan SP tetap berjalan.

Itulah SDM Indah Kiat yang luar biasa. Seorang kawan menyebutnya dengan istilah ITB, ilmu tolak bala. Kawan lain menyebutnya dengan IBB, ilmu buang badan. Seorang kenalan yang sok mengerti bahasa Inggris gaya Amerika menyebutnya dengan "the art of saving your own ass". Pekerja asal negeri Keling yang sudah dipaksa pulang ke negerinya mengatakan hal tersebut dengan "saving your own skin".

Tukul dalam salah satu acaranya menyebutnya dengan SDM, selamatkan diri masing-masing.

Jumat, 14 Februari 2014

Air ...

Akhir-akhir ini air yang ada di toilet di tempat kerja berbau agak busuk, seperti bau daunan yang sudah terendam lama dalam air. Air di mess dan di KPR malah lebih parah, kadang ada kotoran coklat yang mengendap di dasar bak.

Apakah air untuk karyawan dan perumahan dibedakan dengan air yang dipergunakan untuk pembuatan kertas? Setahuku, proses pembuatan kertas membutuhkan air yang sangat bersih untuk menghasilkan kertas yang juga sangat bersih. Jika air yang sama dengan yang dikirim ke mess dan KPR dipergunakan juga untuk membuat kertas, hasilnya pasti akan berantakan. 

"Airnya dari sumber yang sama, kok", kata seorang kenalan di seksi water-1. "Air dari tempat kami dikirim ke kantor besar, ke mess Taiwan, mess 26K dan KPR".

Kok mutu airnya kelihatannya berbeda? "Oh, itu kemungkinan karena airnya tidak bergerak terus dalam pipa. Saat air diam dan tergenang, ada kemungkinan bisa tercemari, katakanlah oleh karat pipa, misalnya". Oh begitu. Solusinya? "Kalau tinggal di KPR, disarankan untuk memasang saringan air tambahan. Sederhana saja. Pasir saja sudah cukup. Atau, sebelum dipakai, air dibuang dulu sebentar, sampai bersih, baru dimasukkan bak".

Mengenai bau daunan busuk? Baunya terasa, terutama air di pagi hari.

"Kami curiga itu bau limbah yang terisap kembali oleh pompa kami". Sudah menjadi rahasia umum bahwa malam hari seringkali limbah pabrik dibuang begitu saja ke sungai Siak tanpa diolah. Musim hujan tidak begitu terasa, tetapi jika sudah lama tidak hujan seperti sekarang ini, akan terasa sekali. Siang hari konduktifiti air sungai Siak hanya seratusan saja, sedangkan dimalam hari bisa mencapai dua ratusan atau tiga ratusan. Apa itu konduktifiti dan efeknya?

"Konduktifiti adalah kemampuan air menghantarkan listrik, yang disebabkan oleh kandungan kotoran dalam air. Semakin tinggi konduktifiti, semakin kotor air dan semakin sulit mengolahnya", kata kenalan dari water tersebut.

Aku ingat beberapa waktu lalu masalah air sempat dihebohkan dengan adanya busa. Buletin Mingguan yang dikelola manusia MBOS (seorang kawan mempelesetkan MBOS menjadi management based on shit) menyebutkan karyawan water sebagai "lebih bodoh dari keledai, karena keledai saja tidak mau jatuh di lubang yang sama dua kali". Rupanya kasus air berbusa itu sampai terjadi dua kali, sampai-sampai air isi ulang produksi koperasi IKPP yang ikut berbusa tidak ada yang mau minum.

"Itu karena si penulis berita hanya memandang dari sudut pandang dia saja dan kenyataan bahwa air berbusa dan seolah itu adalah kesalahan karyawan water", jelas rekan water tersebut . Diduga penyebab busa adalah sejenis bahan kimia bernama OBA, yang dipergunakan untuk meningkatkan kecerahan kertas.

"Menjadi keledai bodoh memang tidak bagus, tetapi lebih jelek lagi untuk menjadi anjing yang cuma menggonggong", tambah rekan water tadi. Maksudnya si penulis berita (namanya tidak tercancum di berita Buletin Mingguan MBOS tersebut) adalah seekor anjing?

"Bisa jadi lebih buruk. Dia cuma menggonggong melalui tulisannya, berdasarkan fakta dan analisa sepihak tanpa menawarkan solusi apapun".

Seksi air memang vital, walaupun keberadaannya sering terabaikan karena dianggap sepele. Eksistensinya terombang-ambing dalam struktur organisasi operasional IKPP: dulu di bawah naungan utility (bersama dengan elektrik dan power), kemudian menjadi seksi sendiri, berkembang seiring ekspansi gila-gilaan Indah Kiat, kemudian menjadi department dengan beberapa seksi di bawahnya. Selama ini tergabung bersama seksi (kemudian departemen) limbah, dibawah divisi SEP (bersama safety), WEP (hanya water dan limbah), kemudian beberapa tahun yang lalu dilebur ke dalam CEP. "Ah, kami hanya anak tiri di CEP", kata kawan water tadi melanjutkan. "Perhatian ke kami sangat kurang. tengok saja kasus limbah pertengahan tahun 2013 lalu". Kasus limbah yang berantakan tersebut mengkambinghitamkan seorang keling India yang bernama Shinha, yang kemudian di PHK. Padahal kabarnya saat itu Shinha sedang cuti sebulan.

Pernah nggak ada sabotase - memasukkan sesuatu ke dalam tempat penyimpan air bersih - sehingga kualitasnnya kacau dan seluruh line produksi berantakan? "Selama ini belum pernah sih. Entah kalau kedepan. Yang jelas kalau ada keributan dan orang-orang menuju ke water untuk melakukan sesuatu, silahkan saja. Paling kami hanya melaporkan saja."

Management by Terror

Sebagai buruh kasar yang hanya mengandalkan otot dan sedikit sekali memanfaatkan otak, tentu saja kami sedikit sekali memahami arti dari manajemen. Bagi kami manajemen adalah segala sesuatu mengenai memberi perintah, dan menuntut hasil dan tidak memberi ruang kegagalan dalam bentuk apapun. Ini yang kami alami sehari-hari.

Pekerjaan kami lebih kepada "menjalankan perintah tanpa banyak tanya" dalam kondisi apapun. Jika perintah itu datang dari si mata sipit Taiwan atau Malaysia, maka perintah itu akan segera dilaksanakan tanpa tunda, seolah itu adalah sabda dewa. Hal yang sama juga berlaku untuk si mata sipit lokal, yang kadang ganasnya melebihi si mata sipit mancanegara.

Dengan pemberi perintah dari negara lain, terutama India, lebih banyak berdebat dulu mencari helah sebelum perintahnya dilaksanakan. Bagaimana dengan perintah dari manusia lokal, yang kebetulan lebih berkuasa? Lebih kurang sama.

Itulah manajemen menurut pengertian kami. Semuanya adalah tentang memberi perintah dan menjalankan perintah.

Karena perintah sering ngadat lambat dan kadang tidak dilaksanakan, walaupun yang bersabda manusia dewa dari Taiwan atau Malaysia, dipikirkanlah cara-cara supaya bagaimana setiap perintah dan keinginan dijalankan sebagaimana mestinya. Pernah dicanangkan hadiah-hadiah untuk hasil yang luar biasa, kemudian ketahuan ternyata hasil luar biasa itu hanya di atas kertas saja, di lapangan tetap bobrok. Laporan indah-indah hanya untuk menuntut hadiah saja.Datanglah ide hukuman dan denda.

Jika kau melanggar sesuatu, kau dihukum. Wajar. Sangat normal. 

Jika kau tidak melakukan sesuatu (perintah), atau kau lamban melakukan sesuatu, kau juga dihukum. Ini ide baru untuk menanamkan ketakutan atas setiap buruh pabrik IKPP yang selama ini merasa aman. Kau terlambat datang meeting dengan atasan, kau akan dihukum. Kau standby saat piket di ruang pengap, kemuan telepon berdering dan kau temlambat mengangkatnya, kau akan dihukum. CCTV dipasang di ruang standby piket untuk memantau gerak gerik buruh pekerja. Lakukan sesuatu yang dianggap tidak wajar, kau akan dihukum.

Malam hari banyak patroli berkeliaran di sekujur area pabrik, untuk mengintai siapa saja para pekerja malam yang tidur, tidur-tiduran, tertidur dan lain-lain yang terkait tidur. Jika ketangkap, siap-siaplah untuk menerima hukuman berat: SP2.

Ketakutan berkembang di seluruh pekerja. Management by terror, seorang senior menyebutkan.

Kamis, 13 Februari 2014

PM-8 Trip

Dari semalam PM-8 tidak berproduksi. Trip, kabar terdengar. Tidak jelas kenapa. Tetapi, kabar lebih pasti terdengar dari rekan dari seksi elektrik: kabel terbakar. Foto di smartphone menunjukkan tumpukan kabel yang gosong, di cable tray pada posisi yang seharusnya aman dan bebas dari api

Tidak ada penjelasan lanjutan. 

Kemudian ada tersiar informasi mengenai intsruksi dari Yong Hong Kiem (APV) supaya "seluruh personel shift supaya memonitor lapangan lebih rutin, karena tadi ada api di PM-8"

Betul sekali. Api ada di mana-mana sekarang, dalam sekam, menunggu nyala terbuka yang bergejolak.

Sabtu, 08 Februari 2014

20 persen

20 persen. Dua kata ini menghantui seluruh pekerja, membuat risau, melemahkan semangat kerja dan membangkitkan rasa sakit hati. Terhadap siapa? Terhadap siapa saja yang punya otak dan ide hebat untuk meningkatkan keuntungan pemilik perusahaan dengan mengecilkan biaya gaji yang harus dibayarkan ke pekerjanya. Implementasinya sederhana saja, tentukan target 20% pengurangan pekerja dari seluruh bagian, habis perkara. Terserah bagaimana pimpinan unit mewujutkannya, itu urusan mereka. Tidak perduli apakah mesin yang terpasang bisa dijalankan oleh jumlah orang yang tersisa nantinya, itu urusan belakangan!

Lalu apa? Kita toh hanya pekerja. Katakanlah didengungkan dengan kata-kata indah membuai, bahwa pekerja adalah aset. Tentu saja aset tersebut bisa diapa-sajakan terserah sipemilik (pengusaha) atau sipengelola (manajemen). Aset bisa dicairkan, bisa dilepas ke pihak lain, ataupun diafkirkan. Dalam kasus ini, supaya tidak ada pengeluaran lagi dari perusahaan untuk asetnya yang berupa pekerja (bukan mesin) yang HIDUP dan punya keluarga yang juga harus DIHIDUPI, maka pekerja yang dikatakan aset itupun harus diafkirkan. Pergi. Untuk selamanya. Lupakan jasa bahwa ada aset yang sudah berjasa semenjak Indah Kiat ini berdiri di Perawang puluhan tahun yang lalu. Jika ada yang mengugat, jawaban pengelola sederhana saja: toh kau selama ini kan sudah digaji untuk apa yang sudah kau lakukan untuk perusahaan ini. Titik.

Rasa risau pekerja bukan hanya yang merasa dirinya akan diafkirkan karena termasuk dalam kriteria 20%, tetapi juga untuk mereka yang akan tinggal melanjutkan kerja mencari uang untuk pengusaha, sehingga pengusaha bisa menggaji asetnya sekedar untuk bisa terus bekerja. Pekerjaan akan bertambah - ya sejumlah 20% juga, sementara berharap pendapatan meningkat adalah impian yang sulit untuk menjadi kenyataan.

Yang menjadi target utama adalah mereka yang berperforma rendah - nilai C. Tetapi, ini juga bukan sesuatu yang fair dan objektif, karena nilai C tersebut HARUS ada, sejumlah 5% dari seluruh pekerja. Oke jika di suatu unit ada yang mendapat nilai C karena performanya yang rendah dan tingkah lakunya yang seperti orang hutan, tetapi bagaimana jika di unit lainnya seorang aset mendapat nilai C hanya karena supaya kuota nilai C terpenuhi?

Target lainnya adalah mereka yang mendapat sanksi - katakanlah SP1 dan seterusnya. Ini juga rasanya tidak semuanya tepat. Dengan ancaman sanksi dari segala penjuru, di mana sepotong sampah bisa berarti SP2, bisa saja seorang aset yang berkinerja baik dan selama ini mencurahkan jiwa raganya untuk memperkaya pengusaha juga ikut terkena dalam golongan 20%. 

Aku tidak memungkiri akan kenyataan akan kesan bahwa ada unit di Indah Kiat Perawang ini yang kelebihan karyawan. Coba saja kau keluyuran di pabrik ke tempat-tempat tertentu, hampir pasti akan kau temui gerombolan aset yang asik menghabiskan waktu dengan mengobrol. Mending kalau yang didiskusikan tentang pekerjaan, tetapi pada kenyataannya yang dibahas justru sesuatu yang tidak jelas dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jam delapan masih berada di ruang stand by. Ini untuk non shift. Lewat jam delapan baru bergerak, lambat tetapi pasti, menyiapkan alat kerja, menuju ke lapangan. Jam setengah sepuluh istirahat lagi, ngopi, merokok dan sebagainya. Jam setengah sebelas sudah bersiap untuk pulang. 

Ada seorang kawan yang mengatakan bahwa kesibukan kerja para aset di berbagai unit di Indah Kiat berada antara pengangguran dan pegawai negeri. Bayangkan - pegawai negeri yang menghabiskan nyaris seluruh jam kerjanya di warung kopi. Atau para pengangguran yang paham betul bagaimana mengimplementasikan "the art of doing nothing".

Beban kerja terselesaikan dengan nyaris sempurna saat lembur. Lalu, hari kerja normal untuk apa?

Kalau sudah begini, siapa yanhg harus disalahkan? Pemilik dan pengelola aset, ataukan si aset itu sendiri?

Rabu, 05 Februari 2014

Karyawan dan Hutang

Hari gajian. Hari dimana para buruh menuai hasil kerja keras selama sebulan. ATM dipenuhi antrian karyawan yang mengular, berdiri menanti kesempatan untuk mengambil rupiah. Lembaran-lembaran rupiah yang kadang hanya skedar melewati tangan menuju ke pos-pos yang sudah terpakai bahkan sebelum uangnya ada: hutang.

Inilah ironi daerah industri, walaupun lokasinya nyaris di pelosok belantara. Kemudahan bertubi mendatangi dalam bentuk kemudahan untuk mengambil barang yang baik diperlukan ataupun hanya sekedar diinginkan dengan cara mencicil. Nampaknya ringan saja, angsuran sekian setiap bulan selama sekian bulan. Tidak nampak jumlah bunga yang kalau ditotal bahkan bisa melebihi pokok utangnya sendiri. Seorang kawan pernah mengatakan, prinsip utama karyawan mengelola pendapatannya adalah dengan prinsip sederhana. Jika mereka sedang memegang uang di tangan, mereka belanja seolah akan mati esok hari. Jika sedang berutang, mereka melakukannya seolah akan hidup selamanya untuk membayar hutang tersebut.

Jika seseorang menawarkan barang - baik yang kau perlukan ataupun yang hanya kau inginkan, pertanyaan pertama yang nyaris pasti kau ajukan bukan berapa harga barang tersebut. Tetapi berapa kali bayar. Bayar setiap gajian dan setiap premian. Tanggal 5 dan tanggal 25 setiap bulan. Tidak jarang kadang karyawan terlilit hutang sampai ke tenggorokan.

Hebutuhan dapur diperoleh dengan hutang dulu. Ngebon, istilah kerennya. Tukang warung - atau tukang sayur keliling akan mencatat di bguku kecilpanjang - yang kalau lembarannya dikibaskan bunyinya membuat risau. Harganya berbeda seandainya kau membayar kontan, tentu saja. Pengutang tidak akan pernah lupa memasukkan komponen bungan ke dalam catatan hutangnya.

Beli pakaian juga dengan berhutang. Beli barang elektronik, juga dengan cicilan. Beli kenderaan, pasti dengan cicilan. Perlu uang tunai mendadak, pinjam dan pembayarannya dilakukan dengan angsuran. Tidak heran, jika rentenir bermunculan seperti laron sehabis hujan. Ada istilah BBA (Bank Batak Asli) dan BCA (Bang Cina Asli), yaitu orang-orang yang meminjamkan uang dengan bunga tertentu. Bunganya tentu saja tinggi.

Koperasi karyawan juga dipenuhi oleh anggotanya yang mengutang. Bahkan, nyaris setiap seksi punya semacam usaha simpan pinjam yang meminjamkan uang kepada anggotanya dengan bunga tertentu.

THR yang seyogyanya untuk kebutuhan karyawan dan keluarganya dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi hari besar habis untuk membayar utang.

Sebenarnya, banyak karyawan dengan gaji kecil bisa hidup sederhana dan bebas dari hutang. Tetapi, budaya dan nafsu konsumtif terhadap barang-barang yang diinginkan - bukan yang dibutuhkan - membuat orang terjerat semakin dalam. Dan semakin sulit untuk terlepas.

Selasa, 04 Februari 2014

Kemakmuran - pendapatan karyawan dari IKPP ...

Sepotong kertas dari tempat sampah. Coretan seorang karyawan Indah Kiat Perawang (jabatan dan posisi tidak diletahui), tentang pendapatannya dari bekerja di IKPP Perawang.


Senin, 03 Februari 2014

Sanksi-sanksi ...

Denda dan sanksi mengepung dari segala penjuru ... 
Sebagian kecil dari sanksi-sanksi yang mengancam.





Sabtu, 01 Februari 2014