Sabtu, 08 Februari 2014

20 persen

20 persen. Dua kata ini menghantui seluruh pekerja, membuat risau, melemahkan semangat kerja dan membangkitkan rasa sakit hati. Terhadap siapa? Terhadap siapa saja yang punya otak dan ide hebat untuk meningkatkan keuntungan pemilik perusahaan dengan mengecilkan biaya gaji yang harus dibayarkan ke pekerjanya. Implementasinya sederhana saja, tentukan target 20% pengurangan pekerja dari seluruh bagian, habis perkara. Terserah bagaimana pimpinan unit mewujutkannya, itu urusan mereka. Tidak perduli apakah mesin yang terpasang bisa dijalankan oleh jumlah orang yang tersisa nantinya, itu urusan belakangan!

Lalu apa? Kita toh hanya pekerja. Katakanlah didengungkan dengan kata-kata indah membuai, bahwa pekerja adalah aset. Tentu saja aset tersebut bisa diapa-sajakan terserah sipemilik (pengusaha) atau sipengelola (manajemen). Aset bisa dicairkan, bisa dilepas ke pihak lain, ataupun diafkirkan. Dalam kasus ini, supaya tidak ada pengeluaran lagi dari perusahaan untuk asetnya yang berupa pekerja (bukan mesin) yang HIDUP dan punya keluarga yang juga harus DIHIDUPI, maka pekerja yang dikatakan aset itupun harus diafkirkan. Pergi. Untuk selamanya. Lupakan jasa bahwa ada aset yang sudah berjasa semenjak Indah Kiat ini berdiri di Perawang puluhan tahun yang lalu. Jika ada yang mengugat, jawaban pengelola sederhana saja: toh kau selama ini kan sudah digaji untuk apa yang sudah kau lakukan untuk perusahaan ini. Titik.

Rasa risau pekerja bukan hanya yang merasa dirinya akan diafkirkan karena termasuk dalam kriteria 20%, tetapi juga untuk mereka yang akan tinggal melanjutkan kerja mencari uang untuk pengusaha, sehingga pengusaha bisa menggaji asetnya sekedar untuk bisa terus bekerja. Pekerjaan akan bertambah - ya sejumlah 20% juga, sementara berharap pendapatan meningkat adalah impian yang sulit untuk menjadi kenyataan.

Yang menjadi target utama adalah mereka yang berperforma rendah - nilai C. Tetapi, ini juga bukan sesuatu yang fair dan objektif, karena nilai C tersebut HARUS ada, sejumlah 5% dari seluruh pekerja. Oke jika di suatu unit ada yang mendapat nilai C karena performanya yang rendah dan tingkah lakunya yang seperti orang hutan, tetapi bagaimana jika di unit lainnya seorang aset mendapat nilai C hanya karena supaya kuota nilai C terpenuhi?

Target lainnya adalah mereka yang mendapat sanksi - katakanlah SP1 dan seterusnya. Ini juga rasanya tidak semuanya tepat. Dengan ancaman sanksi dari segala penjuru, di mana sepotong sampah bisa berarti SP2, bisa saja seorang aset yang berkinerja baik dan selama ini mencurahkan jiwa raganya untuk memperkaya pengusaha juga ikut terkena dalam golongan 20%. 

Aku tidak memungkiri akan kenyataan akan kesan bahwa ada unit di Indah Kiat Perawang ini yang kelebihan karyawan. Coba saja kau keluyuran di pabrik ke tempat-tempat tertentu, hampir pasti akan kau temui gerombolan aset yang asik menghabiskan waktu dengan mengobrol. Mending kalau yang didiskusikan tentang pekerjaan, tetapi pada kenyataannya yang dibahas justru sesuatu yang tidak jelas dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jam delapan masih berada di ruang stand by. Ini untuk non shift. Lewat jam delapan baru bergerak, lambat tetapi pasti, menyiapkan alat kerja, menuju ke lapangan. Jam setengah sepuluh istirahat lagi, ngopi, merokok dan sebagainya. Jam setengah sebelas sudah bersiap untuk pulang. 

Ada seorang kawan yang mengatakan bahwa kesibukan kerja para aset di berbagai unit di Indah Kiat berada antara pengangguran dan pegawai negeri. Bayangkan - pegawai negeri yang menghabiskan nyaris seluruh jam kerjanya di warung kopi. Atau para pengangguran yang paham betul bagaimana mengimplementasikan "the art of doing nothing".

Beban kerja terselesaikan dengan nyaris sempurna saat lembur. Lalu, hari kerja normal untuk apa?

Kalau sudah begini, siapa yanhg harus disalahkan? Pemilik dan pengelola aset, ataukan si aset itu sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar