Karyawan mau dikurangi 20% dengan berkedok manpower optimization, tetapi manusia baru terus berdatangan, kebanyakan expat yang seharusnya juga expert. Tetapi tidak semuanya seperti yang diharapkan. Mereka datang, tanya-tanya ke operator lapangan, belajar pengoperasian. Ini alih ilmu yang salah arah.
Ditempatku bekerja, suatu hari aku berjumpa dengan dua orang, dua-duanya sudah sangat berumur. Seorang membawa ransel, seorang lagi memakai tas selempang. Keduanya membawa kamera mungil, yang terselip dalam sarungnya yang tergantung di ikat pinggang mereka. Helm mereka adalah helm putih bertuliskan PJT - Project Team. Menilik tampang mereka, mereka berdua adalah orang asing, Cina mungkin, atau Taiwan. Setidaknya usia mereka sudah mencapai nilai titik didih air, atau mereka dilahirkan pas pada saat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapanya yang terkenal itu.
Kupikir mereka kesasar, atau tidak tahu tujuannya kemana, jadi kudekati. Seorang yang berkacamata menunjuk-nunjuk ke arah peralatan baru yang baru bebeapa waktu lalu dioperasikan. Dari mulutnya yang terbuka-tertutup keluar semacam dengungan, jadi kucoba ia sedang mencoba untuk berkomunikasi denganku. Karena kupikir pendengaranku bermasalah dan kata-katanya tertangkap sebagai dengungan di telingaku, aku lebih mendekat dan mencoba bertanya. Dari mulut orang yang berkaca mata masih keluar dengungan yang sama, hanya kali ini lebih tegas. Bukan bahasa cang-cing-cung ataupun bahasa Indonesia. Tinggal satu lagi kemungkinan bahasa, yaitu bahasa Inggris. Karena dulu setiap kelas bahasa Inggris sewaktu di SMA aku nyaris selalu bolos, jelas bahasa Inggris bukan alternatif yang baik bagiku untuk berkomunikasi. Jadi aku menggerak-gerakkan tanganku untuk mencoba berkomunikasi dengan bahasa universal yang sudah ada sejak jaman kuno: bahasa isyarat. Entah mereka mengerti atau tidak, yang tidak berkaca mata mengeluarkan sebuah buku dan mulai menulis sesuatu. Menggambar lebih tepatnya. Kemudian dia menyodorkannya ke mukaku.
Di situ kulihat gambar beberapa baut, diikuti dengan tanda tanya besar, dan kata-kata "how much".
Dia juga kemudian menyodorkan lembaran-lembaran kertas, berisi tabel, angka-angka dan sebuah kolom kosong. Semacam daftar periksa, kemunngkinan untuk mengecek ulang peralatan yang baru dipasang di tempatku kerja, untuk memastikan apa yang dipasang sesuai dengan daftarnya atau tidak. Mereka adalah semacam auditor.
Aku bingung, mencoba memahami situasi keberadaan mereka. Pekerjaan yang mereka lakukan sangat sederhana, dan bisa dilakukan oleh setiap orang lokal yang bisa baca tulis dan mengenal material konstruksi. Sementara, menengok tampang mereka yang sangat serius, pasti mereka adalah orang yang sangat berpengalaman - expert. Mereka adalah orang asing, jadi mereka adalah expat yang expert. Menilik jumlah pulpen di saku mereka yang lebih dari satu biji, mereka bukan expert yang sembarangan. Bayaran mereka sebagai expart yang expert pasti setinggi langit dibandingkan dengan yang didapat orang lokal.
Kenapa perusahaan ini sampai harus mengimport pekerja asing untuk pekerjaan sederhana seperti itu? Apakah itu tidak terlalu berlebihan?
Luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar