Pagar mengelilingi pabrik boleh tinggi, gerbang boleh dijaga oleh para satpam sangar, tetapi di dalam pabrik malam hari para maling berkeliaran menjarah apa saja, terutama kabel listrik. Teknis mereka terampil, kerja mereka sistematis, gerakan mereka teroganisir dengan rapi. Sulit untuk menyangkal adanya kekuatan dukungan yang tidak terkalahkan dibalik aksi mereka. Ini bukan lagi sekedar mencari sesuap pengisi perut, tetapi lebih kepada mencari uang dalam jumlah besar dengan cepat
Para satpam bukannya tidak mengetahui keberadaan mereka. Tetapi siapa mau berbuat lebih, karena keselamatan keluarga diluar bisa terancam, sementara perusahaan tidak mau melakukan apa-apa untuk melindungi mereka. Jika para satpam mengetahui gerakan mereka di satu tempat, dengan nyaman mereka menghindar dengan dalih mau patroli ke tempat lain. Maling silahkan beraksi, setelah selesai dan ketahuan ada yang hilang, karyawan setempat akan memanggil satpam sesuai prosedur dan kemudian barulah para satpam berdatangan untuk mengadakan penyelidikan. Tinggallah karyawan setempat yang ketiban sial dengan ancaman berbagai sanksi karena berada pada tempat yang salah pada waktu yang salah, karena para maling memilih beraksi di tempat mereka dan bukannya di tempat yang lain.
Untuk setiap kejadian maling kabel, teroris no 2 Ko Po Chen tidak akan segan menjatuhkan sanksi ganas. Nasib... nasib. Sudahlah pendapatan yang sangat membumi nyaris mendekati titik beku air, dikenakan pula berbagai potongan karena sanksi atas berbagai kejadian kemalingan ...
Beberapa hari yang lalu satu rol besar kabel dimaling para maling di penyimpanan di material. Tidak tanggung-tanggung, nyaris satu ton tembaga bisa didapat dari kupasan kabel tersebut. Dengan harga mudah di penadah yang bertebaran di Perawang sebesar sekitar delapan puluh ribu rupiah, nyaris delapan pululan juta rupiah digasak para maling. Tidak heran kemudian Hasanudin mengumpuli para manusia terkait, marah besar sampai menyebut para karyawan dengan benda yang ada di selangkangan ayahnya yang menyebabkan Hasan mundul di dunia ini, dan juga menyebutkan benda yang ada di antara dua kaki ibunya tempat Hasan keluar di dunia ini.
Siapa yang salah? Mungkin Hasan lupa yang membiarkan para maling berkeliaran di pabrik adalah para satpam, anggotanya sendiri. Kalau saja para penjaga itu lebih becus menjaga keamanan, pabrik akan bebas dari para maling dan karyawan akan lebih fokus bekerja tanpa ada kekhawatiran kemalingan yang menyebabkan berbagai potongan gaji karena denda dan sanksi.
Isu pengurangan satpam juga munngkin sudah terdengar oleh para maling. Isu tersebut menyebabkan para satpam menjadi lebih tidak becus bekerja menjaga keamanan. Inilah saat yang ditunggu oleh para maling, sebagian besar adalah maling karir karena penghidupannya memang hanya berasal dari hasil maling.
Dugaan lain mungkin lebih sadir. Para maling tersebut adalah binaan manajemen supaya ada saja karyawan yang ketiban sial setiap saat karena tempat kerjanya kemalingan dan kemudian menghadapi sanksi berat sampai PHK tanpa pesangon, hal yang sangat disukai manajemen. Otak Taiwan terkenal licik, bisa saja maling-maling tersebut adadalah salah satu manifestasi kelicikan mereka. Siapa tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar